Riview Film Dokumenter Ice Clod: Murder, Coffe and Jessica Wongso

 

Riview Film Dokumenter

Ice Clod: Murder, Coffe and Jessica Wongso

 

     Netflix pada tanggal 28 September 2023 merilis sebuah film dokumenter yang berjudul Ice Cold: Murder, Coffe and Jessica Wongso. Film ini membahas kembali kasus kematian Wayan Mirna Salihin pada hari Rabu, 6 Januari 2015 di kafe Olivier Jakarta Pusat yang diduga dibunuh dengan menggunakan racun sianida. Kemudian pihak kepolisian dan pengadilan setelah melalui beberapa proses panjang menetapkan teman dekat korban yaitu Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka pembunuhannya dengan hukuman penjara selama 20 tahun.

     Untuk lebih memahami konteks kejadiannya, kita perlu mengetahui rangkaian peristiwanya yang dimulai saat kepulangan Jessica ke Indonesia pada bulan Desember 2015 setelah menetap delapan tahun di Austalia. Kepulangannya untuk mencari pekerjaan atau sumber lain mengatakan untuk berlibur. Pada tanggal 12 Desesmber 2015, Jessica, Mirna dan suami Mirna yaitu Arief Soemarko sempat bertemu disebuah restoran. Kemudian di hari Rabu, 6 Januari 2015, Jessica, Hani, Vera, dan Mirna janjian untuk bertemu di kafe Olivier pada jam 17:00. Namun Jessica datang lebih awal ke kafe itu pada jam 15;30 dan datang lagi untuk kedua kalinya pada jam 16:14 dengan membawa tiga paperbag. Kemudian Mirna dan Hani baru datang ke kafe pada jam 17:17. Setelah meminum kopi yang jauh sebelumnya telah dipesankan Jessica, Mirna mulai tidak sadarkan diri pada jam 17:20 dan segera dilarikan ke klinik terdekat  di Grand Indonesia.[1] Namun kemudian kembali dilarikan ke RS Abdi Waluyo, Mirna sebenarnya sudah meninggal saat tiba di RS Abdi Waluyo pada jam 18:00 karena nadi, denyut jantung dan nafasnya sudah tidak ada. Namun baru dinyatakan meninggal secara medis pada jam 18:30 setelah dilakukan pemeriksaan dan menunjukan hasil pupil mata melebar, reflek cahaya dan hasil FKG yang negatif. Kemudian pihak kepolisian melakukan penyelidikan terkait kematian Mirna. Pada awalnya pihak keluarga Mirna menolak memberikan izin kepada kepolisian untuk melakukan autopsy terhadap jenazah Mirna. Namun kemudian akhirnya pihak keluarga memberikan izin. Walaupun ternyata pada akhirnya autopsy ini dilakukan dengan tidak maksimal yaitu hanya mengambil sempel pada beberapa bagian dan berhenti setelah menemukan kandungan sianida sebesar 0,2 mg di bagian lambung.[2] Kemudian pada hari Jumat 29 Januari 2016 pihak kepolisian menetapkan Jessica Kumala wongso sebagai tersangka pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan menggunkan racun sianida yang dituangkannya ke dalam kopi milik Mirna dan pengadilan pada hari kamis, 27 Oktober 2016 menjatuhkan vonis hukuman 20 tahun penjara kepada Jessica sesuai dengan pasal 340 KUHP.[3]

     Dalam film dokumenter ini, disorot beberapa kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam kasus ini. Pertama ternyata tidak ada bukti langsung dan jelas yang menunjukan Jessica memiliki dan menuangkan sianida ke dalam kopi tersebut. Kedua foto-foto yang beredar menunjukan warna kebiruan pada jenazah Mirna, padahal seharusnya menurut Prof Djadja Surya Atmadja seorang ahli forensik RSCM, jenazah yang meninggal karena racun sianida harus menunjukan warna kemerahan. Kemudian baru setelah dia mengatakan itu, beredar foto terbaru yang menunjukan warna kemerahan pada jenazah Mirna. Ketiga muncul kecurigaan yang mengarah kepada keluarga Mirna, dimulai dari penolakan keluarga untuk memberikan izin autopsi terhadap jenazah Mirna dan perilaku janggal yang tampak pada ayahanda Mirna yaitu Edi Darmawan. Keempat terkait hasil pemeriksaan awal pasca 70 menit setelah wafatnya mirna yang tidak temukan kanndungan sianida dalam tubuh Mirna dan baru ditemukan hanya pada lambung (padahal seharusnya  menurut Prof. Djadja jenazah yang meninggal karena sianida, seluruh organ tubuhnya juga pasti masih terkandung sianida didalamnya) pasca 3 hari wafatnya Mirna dan hanya sebesar 0,2 mg yang itu jauh dari batas sianida mematikan sebesar 50-176 mg. Kelima jenazah mirna tidak tercium bau almound yang seharusnya ada pada jenazah yang mati akibat racun sianida. Keenam sulitnya mendapat akses wawancara terhadap Jessica menimbulkan banyak kecurigaan yang padahal, tersangka kasus terorisme saja sangat begitu luasn akses wawancara terhadapnya. Ketujuh adanya pandangan negatif terhadap para penyelidik dari pihak kepolisian yang belakangan ini terlibat dalam perputaran kasus Sambo dan terkhusus perilaku penyidik Krisna Mukti yang dinilai arogan ketika melakukan introgasi terhadap Jessica

     Adapun disisi lain, film dokumenter ini sendiri memiliki beberapa kejanggalan. Pertama adegan-adegan personal terlalu berlebihan ditonjolkan, terutama pada pihak ayahanda Mirna yang terlalu menyorot pada ucapan-ucapan sensitifnya, aksesoris yang dipakainya, dan adegan menembaknya yang seolah berusaha memberikan pandangan negatief penonton terhadap Edi Darmawan. Kedua alur cerita pada film ini cenderung berat sebelah dan lebih memihak pada pihak Jessica. Seharusnya semua pihak yang terlibat didalamnya diberikan porsi yang sama dalam menanggapi suatu persoalan. Kriteria seperti itulah yang membuat sebuah film dokumenter dikatakan fair. Justru dalam film documenter ini yang terjadi sebaliknya, ada salah satu pihak yang mendapat porsi lebih banyak dari pihak lainnya. Apalagi dalam dokumenter ini, ditutup dengan ungkapan kesedihan yang dilontarkan Jessica yang seolah-olah menggiring penonton untuk turut bersimpati terhadap apa yang menimpa kepada Jessica. Ketiga terkaiat tidak disosrotnya persoalan celana Jessica saat kejadian yang telah dibuang oleh ARTnya, padahal itu bisa menjadi salah satu barang bukti penelidikan yang utama terhadap kasus ini dan saat sidang berlangsung, Jessica hanya memberikan alasan dibuangnya celana itu karena sudah sobek dan ketika diminta untuk dihadirkan ARTnya, Jessica mengatakan dia tidak tahu kemana perginya ART itu karena sudah pulang dan tidak bekerja dengannya lagi. Keempat tidak disosrotnya beberapa perilaku Jessica yang cukup janggal, yaitu saat sebelum kejadian dia sempat berkeliling kafe untuk mengecek posisi CCTV berada, dia terlihat beberapa kali memindah-mindahkan posisi paperbag yang dibawanya seolah berusaha menghalangi pandangan dari CCTV, dia membuka segel sedotan dan memasukanya ke dalam kopi Mirna yang itu memang sudah melanggar SOP kafe, karena pemilik minuman itulah yang berhak dan seharusnya memasukan sedotannya sendiri kedalam minumannya bukan orang lain yang apalagi dilakukan Jessica jauh sebelum kedatangan Mirna, dan perilaku terkait ketenangan Jesica saat Mirna mulai tidak sadarkan diri, serta sikap Jessica saat didepan kamera wartawan yang begitu santai dan sempat tertawa cengengesan. Kelima terkait tidak dibahas mendalamnya kasus masa lalu Jessica di Australia yang sampai pada 14 kasus dan salah satu kasusnya adalah Jessica pernah mengancam akan membunuh atasannya dengan mengatakan bahwa dia mengetahui bagaimana cara membunuh orang termasuk dengan menggunkan bahan kimia yang dia akui, bahwa dia mengetahui seberapa dosis mematikan yang dapat menimbulkan kematian. Karena belakangan terungkap Jessica pernah sempat bekerja di perusahaan Ambulance NSW yang sedikit banyak pasti pernah bersinggungan dengan obat-obatan dan bahan kimia. Walaupun sebenarnya, kasus-kasus tersebut tidak menjadi landsan pasti akan kesalahan Jessica pada kasus ini, tapi track record seseorang tentu bisa menjadi acuan bagaimana sebenarnya perilaku dan karakteristik seseorang tersebut. Keenam jika memang Mirna tidak meninggal karena kopi yang diminumnya, lalu bagaiamana dengan reaksi sama semua orang yang juga sempat mencicipi kopi yang diminum Mirna. Mereka mengakui ada yang salah dengan kopi tersebut dan kebetulan memang orang yang selalu bersama kopi itu sebelum Mirna datang hanyalah Jessica. Kecil kemungkinan ada orang lain yang terlibat didalamnya. Ketujuh terkait penyorotan negatif sikap penyidik yaitu Krisna Mukti yang padahal itu merupakan salah satu taktik yang dilakukan dalam proses introgasi seseorang guna mendapatkan informasi seakurat mungkin dan terkait curhatan Jessica yang mengungkapkan kesedihannya karena sebegitu mengenaskannya sel yang ditempatinya, padahal belakangan diketahui lewat video yang beredar bahwa Jessica sendirilah yang menolak dipindahkan dari sel tersebut.[4]

     Kasus ini memanglah sangat begitu rumit, banyak kebetulan-kebetulan dan kemungkinan-kemungkinan terjadi didalamnya yang menyebabkan banyak semua kebetulan-kebetulan dan kemungkian-kemungkinan tersebut memang benar-benar terjadi. Ditambah lagi kasus ini sudah menjadi sangat fenomenal dan menjadi bahan gorengan media-media yang menyebabkan banyak adanya kepentingan-kepentingan yang tercampur aduk didalamnya. Sebenarnya bila ditarik garis benang merahnya, kasus ini tidak akan menjadi sebegitu rumit sekarang ini, apabila dari awal sudah dilakukan autopsi terhadap jenazah Mirna. Karena autopsilah yang menjadi kunci utama kasus ini, dengan autopsi dapat teranglah penyebab kematian Mirna, apakah itu dibunuh atau karena sebab lainnya. Tetapi juga kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pihak keluarga Mirna yang menolak dilakukannya autopsi, karena bagaimanapun juga autopsi masih merupakan hal yang tabu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan merekapun tidak mengetahui bahwa perjalanan pengungkapan kematian Mirna akan serumit dan seberbelitnya ini. Disisi lain kita tidak bisa juga melihat sebelah mata akan perilaku dan sikap Jessica yang begitu tenang-tenag saja dalam menghadapi kasus ini, karena bagaimanapun setiap orang memiliki respon dan sikap yang berbeda-beda dalam menghadapi suatu masalah. Bisa jadi, Jessica tampak dari luar memang begitu tenang-tenang saja tapi dalam jiwanya mungkin dia begitu terpukul atas kematian sahabatnya dan sangat begitu sedih atas permasalahan yang menimpanya.

     Sangat perlu diperhatikan bahwa keobjektifan kita dalam melihat sesuatu sangatlah penting, kita perlu membuka kedua mata selebar-lebarnya terhadap fakta yang terjadi di kedua belah pihak yang bertentangan. Tidaklah cukup dengan menjadikan satu buah media sebagai sumber referensi tunggal, karena tidak dapat dimungkiri, terkadang media-media itu begitu mengecoh kita dalam melihat fakta yang sebenarnya terjadi, karena tentu mereka juga punya kepentingan-kepentingan pribadi yang menguntungkan mereka sendiri. Jadi, berusahalah menjadi seobjektif mungkin dalam melihat sesuatu, jangan mau dijadikan kambing gembalaan yang selalu mengikuti arah kemana sang pengembala mengarahkan. Kunci diri kita tidak berada ditangan orang lain, tapi justru ada pada tangan diri kita sendiri.



[1] Rini Friastuti, Kronologi Jessica Taruh Racun Sianida di Kopi Mirna, https://news.detik.com/berita/d-3233757/kronologi-jessica-taruh-racun-sianida-di-kopi-mirna, diakses pada tanggal 22 Oktober 2023

[2] Nessie Judge, Bahas Kasus Jessica-Mirna & Netflix, https://www.youtube.com/watch?v=FSfhu-VVPAM&t=171s, diakses pada tanggal 21 Oktober 2023

[3] Nursita Sari, Timeline Kasus Kematian Mirna, https://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/27/07154061, diakses pada tanggal 22 Oktober 2023

[4] Nessie Judge, Memanas! Ice Cold-Jessica-Mirna Terbaru, https://www.youtube.com/watch?v=K675aJoWODA, diakses pada tanggal 21 Oktober 2023

Komentar