Telaah Pandangan Karl Max : Agama Sebagai Candu Masyarakat

    Karl Max mengemukakan pandangan negatif  dalam merespon agama yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Menurutnya, agama hanyalah merupakan sebuah ilusi dan candu yang meninabobokan masyarakat dari sebuah kesengsaraan yang menimpanya. Pandangan yang dikemukakannya tentu berasal dari keresahan kondisi aktual masyarakat saat itu yang mungkin cenderung menjadikan agama sebagai pelarian atas kesengsaraan yang menimpa mereka atau secara singkatnya mereka menyerah pada keadaan dengan berdalih dan berlindung dibawah naungan agama.

   Pandangan ini tidaklah sepenuhnya salah, bahkan mungkin bisa dikatakan tetap relevan dan benar-benar terjadi saat ini disebagian masyarakat para pemeluk agama. Mereka menjadi semakin agamis yang salah kaprah disaat kesengsaraan menimpanya. Mereka tertimpa kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan lalu untuk menenangkan jiwanya, mereka berpegang teguh pada dalil-dalil agama yang terkait tentang kefanaan dunia. Padahal agama juga memberikan perintah dan pedoman tentang pentingnya bekerja keras, tidak pantang menyerah, urgensinya kaya secara materil dan imateril, serta perjuangan untuk melawan kedzholiman dan menegakkan keadilan. Namun, mereka baik disengaja ataupun tidak telah mengabaikan perintah dan pedoman agama tersebut. Mereka telah salah kaprah memilih menyerah dengan keadaan dibandingkan dengan tetap berusaha dan berjuang bangkit dari keterperukan. Untuk mengatasi persoalan ini, masyarakat beragama perlu berbenah diri terkhusus untuk para tokoh agama. Dalam menyanpaikan khutbah atau ceramahnya, para tokoh agama perlu memahami target audiensnya. Ketika audiensya merupakan masyarakat yang sedang dalam keterpurukan, maka yang seharusnya menjadi penekekanan bukanlah tentang keharusan bersabar, kefanaan dunia, dan keharusan menerima takdir Tuhan. Tetapi harus ditekankan pada pentingnya bekerja keras, pantang menyerah dengan keadaan, keberanian melawan kedzaliman dan kesamaan urgensinya kehidupan dunia ini dengan kehidupan akhirat kelak. Berbanding terbalik disaat para audiensnya merupakan masyarakat yang mapan dan bercukupan, yang menjadi penekanan adalah mengenai kesementaraan kehidupan dunia dan pentingnya saling membantu antar sesama terutama yang dalam bentuk bantuan materil. Ketika para masyarakat agama telah memahami kondisinya masing-masing serta menempatkan dalil-dalil agama sesuai pada kondisnya tersebut, maka agama bukan lagi menjadi obat dalam bentuk negatif yang meninabobokannya dalam keterpurukan melainkan agama menjadi obat dalam bentuk positif yang mampu meningkatkan gairah mereka dalam memperbaiki kondisi yang sedang dialaminya.

   Dengan ini dapat dilihat bahwa Karl Max tidaklah seutuhnya sempurna dalam melihat fenomena beragama. Yang mampu dilihatnya hanyalah pada sebagian masyarakat yang telah salah kaprah dalam beragama. Padahal ada sebagian masyarakat lainnya yang telah menjadikan agama sebagai pedoman dalam usaha-usaha memperbaiki keterpurukan dan meningkatkan kemapanan diri dan sesama. Akhir kata, kekurangan dan kesalahan bukan terletak pada agama itu sendiri melainkan ada pada diri pribadi yang telah salah memposisikan agama dalam kehidupannya.

Komentar