Bentuk bacaan Al-Qur'an tidaklah tunggal, melainkan terdapat berbagai cara dalam membaca Al-Qur'an yang berbeda satu sama lainnya. Dengan mempelajari Ilmu Qira'at kita dapat mengetahui setiap perbedaan cara baca tersebut. Namun jauh sebelum kemunculan atau upaya sistemasi pembentukan Ilmu Qira'at, perbedaan cara membaca tersebut telah muncul sejak zaman Rasulullah. Adapun yang menjadi landasan dari keabsahan adanya perbedaan cara membaca Al-Qur'an adalah Sabda Rasulullah terkait dengan turunnya Al-Qur'an dengan tujuh huruf.
إن القرآن أنزل على سبعة أحرف، فاقرؤوا ما تيسر منه
"Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian mana yang paling mudah" (HR. Bukhari)
Lalu bagaimana sebenarnya hadits-hadits al-ahruf as-sab'ah ini dipahami? Apa pendapat para ulama terkait al-ahruf as-sab'ah? Dan apa hubungannya al-ahruf as-sab'ah dengan Qira'at?
Memahami hadits-hadits al-ahruf as-sab'ah
Terdapat sekian banyak riwayat-riwayat hadits tentang tujuh huruf ini. Dalam kitab Tarikh Al-Qur'an karya Dr. Abdul Shabur Syahin disebutkan bahwa jumlah para sahabat Nabi yang tersebutkan dalam berbagai riwayat hadits tujuh huruf ini sampai pada 15 orang, dan terdapat juga 46 jalur sanad yang terkait dengan hadis ini, dengan hanya 4 sanad yang munqathi' (terputus) dan siasanya jalur sanad tersebut muttasil (tersambung).
Lebih lanjut Dr. Abdul Shabur Syahin memberikan catatan penting terkait hadits-hadits ini. Pertama hadits-hadits ini muncul pada saat periode kehidupan Rasulullah di Madinah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada periode kehidupan umat Islam ketika masih saat di Mekkah, perbedaan cara membaca Al-Qur'an ini belum muncul. Kedua terdapat sekian banyak faktor dari munculnya hadits-hadits ini, sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits-hadits ini diantara sebabnya adalah karena perbedaan bahasa, kosa-kata yang digunakan, dialek, dan ketidakmampuan mengucapkan sebuah kata tertentu baik karena faktor usia ataupun yang lainnya.
Yang perlu kiranya dicermati adalah terkait dengan munculnya hadits ini pada periode Madinah yang dimana jumlah umat Islam semakin banyak dan berasal dari berbagai latar belakang wilayah dengan suku-suku yang berbeda-beda dan memilki bahasa dan dialek yang berbeda-beda juga. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi pada periode Mekkah yang dimana jumlah umat Islam masih terbatas dan relatif berasal dari suku-suku yang hampir sepadan, serta hubungan kontak langsung dengan Rasulullah masih sangat leluasa. Sehingga memungkinkan untuk dapat langsung belajar dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an kepada Rasulullah apabila mendapati kesulitan.
Maka Dr. Abdul Shabur Syahin kemudian menyimpulkan bahwa Rasulullah menyaksikan umatnya mengalami kesulitan dalam membaca Al-Qur'an. Lalu Rasulullah memandang perlu untuk memberikan kemudahan kepada umatnya dengan memohonkan hal tersebut kepada Allah melalui Malaikat Jibril yang kemudian dibantu juga oleh Malaikat Mikail sebagimana yang tertera dalam keterangan salah satu riwayat hadits tujuh huruf ini. Maka Allah kemudian mengabulkan harapan tersebut, yaitu dengan menurunkan Al-Qur'an dengan al-ahruf as-sab'ah sebagai bentuk pemberian kemudahan dan keluasan bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam membaca Al-Qur'an.
Pendapat ulama terkait al-ahruf as-sab'ah
Para ulama telah sepakat mengenai turunnya Al-Qur'an dengan al-ahruf as-sab'ah sebagaimana telah jelasnya keterangan tersebut dalam Hadits Rasul. Tetapi mereka berbeda pendapat terkait pemahaman dan makna apa yang dimaksud dalam al-ahruf as-sab'ah.
Dr. Nabil bin Muhammad Ibrahim Al Ismail dalam kitabnya 'ilm al-qira'at menyebutkan setidaknya terdapat 2 madzhab pendapat ulama terkait dengan makna al-ahruf as-sab'ah
Madzhab pertama, sebagian para ulama berpendapat bahwa makna al-ahruf as-sab'ah adalah sebagaimana makna literelnya kata tersebut. Yaitu terdapat 7 macam bentuk perbedaan. Namun mereka berbeda pendapat terkait rincian makna al-ahruf. Berikut adalah uraian perbedaannya;
1. Makna al-ahruf adalah perbedaan dalam bahasa atau dialek dalam membaca Al-Qur'an. Bahasa atau dialek tersebut adalah Quraisy, Hudzail, Tsaqif/Rabi'ah, Hawazin, Kinanah/Azid, Tamim, dan Yaman/Sa'ad bin Bakar.
Diantara para ulama yang berpendapat demikian adalah Sufyan bin 'Uyainah, Abu Ubayd Qasim bin Salam, Ibn Jarir At-Thabari, Al-Qurthubi, Syaikh Manna' Al-Qathan, dan Hasan Dhiya'uddin 'Atar.
2. Makna al-ahruf adalah perbedaan dari sisi lafdziyyah. Ibn Qutaibah menyebutkan 7 sisi lafdziyah tersebut adalah perbedaan dalam harakat tanpa mengubah makna dan bentuk, perbedaan harakat yang mengubah makna, perbedaan huruf yang mengubah makna, perbedaan huruf yang mengubah bentuk, perbedaan huruf yang mengubah makna dan bentuk sekaligus, perbedaan taqdim dan ta'khir, dan perbedaan dalam penambahan dan pengurangan.
Diantara para ulama yang berpendapat demikian adalah Ibn Qutaibah, Az-Zarkasyi, Ibn Jazari, Muhammad 'Ali Ash-Shabuni, Dr. Shaʻban Muhammad Ismaʻil, dan Dr. Muhammad Samir al-Labadi.
3. Makna al-ahruf adalah perbedaan dari sisi maknawiyah. Yaitu sebagain berpendapat berupa halal, haram, muhkam, mutasyabih, amr/teguran, dan amtsal. Sebagian lainnya berpendapat wa'du, wa'id, halal, haram, mau'idza, amtsal, dan ihtijaj. Serta sebagian lainnya berpendapat muhkam, mutsabih, nasyikh, mansyukh, khusus, 'am, dan qishash.
Madzhab kedua, sebagian para ulama lainnya berpendapat bahwa makna al-ahruf as-sab'ah tidak menunjukan jumlah yang sebenarnya sebagaimana makna literelnya kata tersebut. Melainkan yang dimaksud adalah makna banyaknya yang menunjukan kemudahan, keluasan, dan dispensasi dalam perbedaan cara baca. Mereka berpendapat bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa-bahasa Arab dengan berbagai bentuknya.
Diantara para ulama yang berpendapat demikian adalah Ali bin Abi Thalib, Ibn Abbas, Al-Qadhi 'Iyadh, Sa'id Al-Afghani, Dr. Abdul Syabur Syahin, Dr. Muhammad Salim Muhaysin, dan Dr. Sayed Riziq Al-Thawil.
Lebih jauh Dr. Abdul Syabur Syahin berpendapat bahwa kemudahan dan keluasan dalam membaca Al-Qur'an tidaklah bersifat mutlak/umum, tetapi hanyalah sebuah bentuk rukhshah/dispensasi karena adanya suatu kemaslahatan yang mendesak pada saat itu. Tetapi saat ini, ketika umat telah bersatu dalam satu mushaf utsmani, maka rukhshah tersebut sudah tidak berlaku lagi. Maka, setiap muslim hendaknya membaca Al-Qur'an sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah ketika periode kehidupan di Mekkah atau selama sekitar 21 tahun sebelum turunnya rukhshah tersebut.
Hubungan al-ahruf as-sab'ah dengan Qira'at
Dr. Nabil bin Muhammad Ibrahim Al Ismail menyatakan bahwa Qira'at adalah bagian dari al-ahruf as-sab'ah. Tetapi bukan berarti para imam dalam qira'at sab'ah merepresentasikan ketujuh perbedaan tersebut.
Dalam kitab Shafahat fi 'Ulum al-Qira'at karya Dr. Abdul Qayyum As-Sindi disebutkan bahwa terdapat dua golongan pendapat ulama terkait hubungan al-ahruf as-sab'ah dengan Qira'at.
Pertama, sebagian para ulama berpendapat bahwa Qira'at adalah salah satu huruf dari ketujuh huruf turunnya Al-Qur'an tersebut. Sebagaimana Khalifah Utsman bin Affan telah membawa umat Islam pada satu pedoman mushaf yang ditulis dengan huruf Quraisy dan memerintahkan untuk membakar mushaf lainnya serta meninggalkan bentuk bacaan al-ahruf lainnya yang berbeda-beda.
Kedua, sebagian para ulama lainnya berpendapat bahwa Qira'at adalah beberapa bagian dari al-ahruf as-sab'ah. Sebagaimana dalam al-ahruf as-sab'ah memuat perbedaan dalam membaca idzhar, idzghom, raum, isymam, qashr, mad, takhfif, ibdal harakat bi ukhra, ya bi ta, wawu bi fa, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang bermacam-macam. Yang dimana ikhtilaf dalam hal tersebut masih berlangsung pada saat ini.
Terakhir, al-ahruf as-sab'ah dan Qira'at adalah dua hal yang saling berkaitan. Qira'at yang merupakan suatu ilmu yang mempelajari cara baca/pelafalan Al-Qur'an dan ikhtilafnya diantara para ulama dengan bersandar pada para perawi merupakan konsekuensi dari al-ahruf as-sab'ah sebagai bentuk kemudahan dan keluasan dalam membaca Al-Qur-an. Sebagaimana firman Allah;
فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسْرَ مِنَ الْقُرْآنِ
"Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran" (QS. Al Muzammil: 20)
Komentar
Posting Komentar