Perenan Mahasiswa Tafsir

 

Peranan Mahasiswa Tafsir

 

   Secara artian luas mahasiswa adalah mereka yang sedang menempuh pendidikan dibangku perguruan tinggi. Sebagai seorang pelajar yang berkewajiban menuntut ilmu, mahasiswa juga memiliki beberapa peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya ialah mahasiswa sebagai agent of change yang sepenuh hati dan jiwa memperjuangkan perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Ini merupakan hal penting yang perlu disadari dan dilakukan seorang mahasiswa, karena ia merupakan aset berharga bagi bangsa baik untuk masa sekarang atau yang akan datang. Sejarah telah membuktikan begitu vitalnya posisi mahasiswa dalam perubahan dan perbaikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang terjadi bukan hanya di Indonesia saja tapi hampir diseluruh dunia.

   Setiap mahasiswa menekuni disiplin keilmuannya masing-masing yang terimplementasikan dalam berbagai program studi. Salah satu diantaranya ialah program studi ilmu al-qur’an dan tafsir atau apapun itu namanya yang mungkin berbeda pada setiap perguruan tinggi. Program studi ini berfokus pada keilmuan seputar ilmu al-qur’an dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Sebagai seorang mahasiswa tafsir sebutlah begitu, ia tentu dituntut untuk tidak hanya berada pada ruang lingkup yang berkaitan dengan agama saja. Tapi ia juga harus harus ikut berkontribusi dalam bebagai aspek persoalan masyarakat melalui perantara bidang keilmuannya. Karena pada hakikatnya agama bukan hanya sebatas tentang akidah dan syari’at semata. Tetapi lebih dari pada itu agama juga menaruh perhatian penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan peradaban, pelestarian kebudayaan baik, peningkatan moral, dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu tidaklah benar pernyataan terkait pentingnya memisahkan kepentingan agama dan dunia atau terkait semakin maraknya trend manusia anti Tuhan yang beranggapan akan agama adalah pembodohan umat manusia, karena agama dapat diibaratkan sebagai rem kehidupan agar tidak kebeblasan dan sebagai arah petunjuk bagi umat manusia menuju kebenaran dan kebahagiaan yang sebenarnya.

   Sebagai agent of change, mahasiswa tafsir memiliki begitu banyak peranan penting dalam masyarakat, terkhusus segala hal yang sifatnya berkaitan erat dengan persoalan keagamaan dan kesosialan yang akhir-akhir ini begitu banyak menjadi sorotan banyak orang. Diantaranya ialah, pertama mahasiswa tafsir berperan dan berkontribusi besar dalam upaya pelurusan kembali berbagai pemahaman kegamaan yang dipelintir dan disalahgunakan atau mungkin disalahpahami oleh sebagian kelompok yang menimbulkan kerugian di tengah-tengah masyarakat bahkan lebih khusus telah menciderai nilai kebenaran dan kesucian ajaran agama itu sendiri. Sebagai seseorang yang telah mempelajari agama secara mendalam, mahasiswa tafsir berkewajiban menyebarkan pemahaman keagamaan yang benar ke tengah-tengah masyarakat melelui berbagai cara dan inovasinya yang sangat penting diperhatikan agar lebih dilirik dan diperhatikan oleh masyarakat luas. Kedua mahasiswa tafsir berperan untuk kembali mengalakan semangat keagamaan yang hakiki, dimana saat ini kehidupan masyarakat cenderung kering dari agama dan cenderung menjadikan agama hanya sebagai simbolis tanpa sepenuhnya memahami dan mengikuti ajarannya yang menyebabkan banyak permasalahan muncul seperti keserakahan dan kejahatan yang disebabkan tidak adanya kontrol diri yang baik akan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang sebagaimana diajarkan oleh agama. Oleh karena itu mahasiswa tafsir sebagai agen perubahan masyarakat berkewajiban mengubah pola hidup masyarakat yang kering akan ajaran agama menuju lebih baik lagi guna menstabilkan kembali jiwa masyarakat agar lebih tentram dan teratur dalam berkehidupan sesuai dengan pedoman dan petunjuk ajaran agama. Ketiga mahasiswa tafsir berperan untuk menjembatani pengintegrasian antara pengetahuan agama dan umum yang masih sering dianggap oleh sebagian orang adalah dua kutub yang saling bertentangan dan bersebrangan, mereka beranggapan keduanya tidak dapat disatukan. Padahal pada sejatinya keduanya menempati posisi yang sama-sama penting dan saling melengkapi satu sama lain dalam kehidupan umat manusia. Keempat mahasiswa tafsir berperan penting dalan upaya semangat moderasi agama yang menjadi agenda utama pemerintah saat ini yang memang sangat penting untuk digalakan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multibudaya dan terdiri akan begitu banyak keanekaragaman suku, ras. Golongan, dan agama. Pemahaman keagamaan yang sempit dan dangkal tentu menjadi pemicu disharmoni dikehidupan masyarakat yang beragam. Ini merupakan persoalan yang menjadi PR bersama terkhusus bagi mahasiswa tafsir yang telah secara dalam mengkaji dan memahami ajaran agama yang sesungguhnya. Sebagaimana pada hakikatnya agama bukanlah penyebab terjadinya disharmoni sosial, melainkan segilintir oranglah yang telah salah memahami dan menyempitkan pemahaman akan ajaran agama itu sendiri. Moderasi beragama bukan merupakan hal yang baru dalam agama yang pada hakikatnya agama itu sendiri memang telah bersikap moderasi. Namun diksi moderasi ini dipakai untuk lebih memudahkan pemahaman masyarakat luas akan sangat pentingnya bersikap moderat dalam beragama. Sebagai contoh golongan Ahlusunnah Wal Jama’ah telah sejak awal menerapkan prinsip-prinsip Wasathiah sebagai pedoaman kehidupan beragama dan bermasyarakat. Salah satu contohnya ialah prinsip Tasamuh yang berarti bersikap toleran dan menghargai setiap perbedaan yang ada, baik itu pada persoalan keagamaan ataupun kemasyarakatan. Tanpa adanya sikap ini akan timbul perselisihan dan pertikaian anatar kelompok yang memiliki perbedaan dan lebih jauh hal ini akan sangat merugikan kehidupan masyarakat secara lusnya.

   Setiap mahasiswa berkewajiban untuk menjadi agent of change sesuai bidang keahliannya masing-masing di kehidupan masyarakat untuk perubahan menuju kearah yang lebih baik lagi guna mewujudkan cita-cita kesejahteraan bangsa. Selain kewajiaban ini memang amanat bangsa dan agama, dorongan kepekaan diri juga menuntut hal demikian. Karena sebagai seorang yang terpelajar ia sudah seharusnya menaruh perhatian yang tinggi akan realitas kehidupan masyarakat dengan ikut berkontribusi mengaplikasikan pengetahuannya agar pengetahuan itu sendiri tidak hanya menjadi perhiasan bagi dirinya sendiri tapi juga menjadi buah segar bagi masyarakat luas. Sebagimana kata pepatah ‘ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon yang tak berbuah’.

 

  

  

Komentar