Islam Sebagai Sumber Inspirasi Kemanusiaan: Studi Ayat-Ayat
Al-Qur’an Dalam Tafsir Al-Misbah
Muhammad
Sabiq Rif’atulloh (23105030010)
Tugas
UAS Bahasa Indonesia_IAT A_ UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
ABSTRAK
Isu kemanusiaan akhir-akhir ini mendapat perhatian
penting di kancah dunia, seiring dengan maraknya dan meningkatnya kasus
pelanggaran hak-hak asasi kemanusian. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan
bahwa Islam menjadi salah satu faktor pemicunya, terutama terkait hak yang
menyangkut kaum wanita. Maka dari itu penelitian
ini secara umun bertujuan untuk menyelesaikan permalahan kemanusiaan yang
terjadi dan secara khusus bertujuan
untuk meluruskan pemahaman dan memposisikan kembali Islam sebagai sumber
inspirasi kemanusiaan, dengan melihat bagaimana penafsiran mufassir terhadap ayat-ayat
Al-Quran yang berkaitan dengan isu kemanusiaan. Penelitian ini akan mengulas dan mengkritisi
pemahaman mufassir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan isu
kemanusian dalam kitab Tafsir Al-Misbah. Adapun penelitian sebelumnya hanya
membahas seputar isu kemanusiaan yang secara eksplisit termaktub dalam
ayat-ayat Al-Quran tetapi belum membahas pendapat tokoh dan makna yang tersirat
dalam ayat-ayat al-Quran megenai isu kemanusiaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
dengan studi literatur yang mengulas dan membahas ayat-ayat Al-Qur’an yang
berkaitan dengan kemanusiaan terkhusus terkait penafiran Quraisy Syihab dalam kitabnya Tafsir
Al-Misbah serta ditopang
oleh artikel-artikel sebelumnya yang memilki tema senada. Hasil temuan dari
penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya Islam
jika dipahami dan diprektikan dengan benar memeberikan perhatian yang lebih
terhadap isu kemanusiaan serta memiliki peranan yang penting dalam penuntasan
permasalahan krisis hak asasi kemanusiaan yang terjadi saat ini di
tengah-tengah masyarakat. Hasil penelitian ini di rekomendasikan kepada seluruh elemen
masyarakat agar dapat dijadikan pedoman kehidupan dan memberikan pandangan bahwasanya
Islam adalah Sumber inspirasi kemanusiaan, sebagaimana fitrahnya Islam itu
hadir ditengah-tengah masyarakat.
Kata
Kunci: Islam, Hak Asasi Manusia, Penafsiran mufassir, Tafsir Al-Misbah
PENDAHULUAN
Seiring dengan meningkatnya dan maraknya pelanggaran
hak asasi manusia yang terjadi ditengah-tengah masyrakat, bahkan tidak sedikit
yang dengan berani mengatasnamakan agama dalam upaya pembenaran pelanggaran tersebut.
Hal tersebut mendorong penelitian ini untuk melihat lewat penafsiran mufassir tentang
bagaimana sebenarnya Islam yang dalam konteks ini objeknya adalah Al-Qur’an
berbicara soal kemanusiaan. Sebenarnya semua pelanggaran hukum yang terjadi
akan otomatis berimplikasi terhadap perampasan hak-hak kemanusiaan. Seperti
bentuk penyiksaan, pembunuhan, penganiayaan, perlakuan diskriminatif dan lain
sebagainya. Ujung titik inti dari kasus-kasus tersebut adalah kembali kepada
pelanggaran apa yang menjadi hak asasi manusia para korbannya. Secara spesifik
kasus besar pelanggaran hak asasi manusia yang berkaitan erat dengan dimensi
keagamaan adalah konflik Poso yang terjadi pada
tanggal 25 Desember 1998 hingga 20 Desember 2001 di Kabupaen Poso Sulawesi
Tengah. Peristiwa ini dimulai dari terjadinya bentrokan kecil antarkelompok
pemuda yang pada akhirnya menjalar menjadi kerusuhan besar bernuansa agama yang
melibatkan banyak pihak. Terdapat 577 korban tewas, 384 terluka, 7.932 rumah
hancur, dan 510 fasilitas umum terbakar. Kerusuhan ini kemudian berakhir pada 20
Desember 2001 dengan ditandanganinya Deklarasi Malino antara kedua belah pihak
Upaya
untuk memeberikan kesadaran kepada masyarakat atas pentingnya menjaga apa yang
menjadi hak-hak kita semua sebagai manusia bukanlah perkara yang mudah yang
dilakukan. Tapi tidak berarti juga mustahil. Perlu adanya kerjasama dan
kesungguhan kuat antar semua elemen masyarakat dalam upaya meningkatkan
kesadaran ini. Dalam konteks Indonesia yang mayoritas beragama Islam, namun
masih menghadapi problem besar dalam pelanggaran hak asasi manusia. Peran Islam
dalam menuntaskan permasalahn ini sangatlah penting dan terbuka lebar. Karena
pada sejatinya Islam itu hadir ditengah-tengah kita sebagai Rahmatal lil
’Alamin. Untuk itu, upaya menggaungkan dan mengaktualisasikan Islam sebagai
sumber inspirasi kemanusiaan perlu menjadi agenda utama dalam kehidupan
bermasyarakat kita. Sebelum beranjak ke agenda besar tersebut, sudah seharusnya
kita mengetahui dan memahami terdahulu tentang bagaiman sebenarnya Islam dalam
hal ini adalah Al-Qur’an berbicara soal kemanusiaan. Untuk mencapai pemahaman
tersebut, kita perlu untuk melihat bagaimana para mufassir memaknai ayat-ayat
Al-Quran yang berbicara soal kemanusiaan. Dengan begitu, kita selanjutnya akan
memahami secara sempurna tentang bagaimana Islam bersikap terhadap kemanusiaan
dan akan mengaktualisasikannya dalam kehidupan dengan sempurna pula.
Penelitian
sebelumnya memberikan kesimpulan bahwa memang dalan ajaran Islam telah diatur
dan mengatur dengan semestinya terhadap apa yang saat ini disebut sebagai
konsep kemanusiaan. Namun penelitian-penelitian sebelumnya masih hanya terbatas
pada penafsiran ayat-ayat Al-Quran tentang kemanusiaan, tetapi belum membahas
secara detail tentang bagaimana pendapat mufassir dan korelasinya dengan konsep
kemanusiaan yang ada saat ini. Adapun penelitian ini akan fokus dan membahas
secara mendalam atas dua pertanyaan saja. Pertama adalah bagaimana sejatinya
Islam dalam hal ini khususnya Al-Quran memberikan perhatian penting terhadap
isu kemanusiaan? Dan bagaimana pendapat mufassir sendiri mengenai penafsiranya
terhadap ayat-ayat tersebut serta korlasinya dengan dengan era sekarang ini?.
Fokus pada pertanyaan tersebut, peneliti
akan mencoba melakukan penjelasan dan
penjabaran dari apaya yang peneliti temukan dalam berbagai sumber dan mencoba
menghubungkannya dengan realitas yang terjadi saat ini.
Penelitian-penelitian
sebelumnya secara garis besar memberikan kesimpulan bahwa krisis kemanusiaan
yang terjadi saat ini merupakan sebagai akibat dari minimnya pemahaman dan
aktualisasi kesadaran diri akan esensi Islam yang sejatinya dapat menjadi
sumber inspirasi kemanusiaan. Oleh karean itu, peneliti merasa perlu lebih banyak
lagi kajian-kajian kemanusiaan dengan basis keislaman, agar umat muslim secara
luas dapat memahami dan mengaktualisasikan apa yang menjadi esensi sesungguhnya
dari ajaran Islam yang dianutnya.
METODE
Penelitian
ini adalah penelitian kualitatif Yang membahas kembali secara deskriftif
mengenai konsep kemanusiaan dalam Islam terkhusus yang termaktub dalam
ayat-ayat Al-Quran dengan acuan utama dan khususnya adalah Kitab Tafsir Al-Misbah
karya Quraish Syihab. Penelitian ini juga merupakan library rise dengan menggunakan
data primer dan sekunder. Data primer diambil dari pandangan dan perspektif
seorang mufassir mengenai konsep kemanusiaan dalam Islam dan realitas
kemanusiaannya yang terjadi saat ini, terutama yang berkaitan erat dengan
Islam. Sedangkan data sekunder diambil dari berbagai artikel jurnal, berita dan
buku.
Langkah
pertama data-data penelitian diambil dari berbagai arikrel, jurnal, berita dan
buku-buku yang berkaitan erat dengan konsep kemanusiaan dalam Islam. Secara
khusus penelitian ini bersumber dan berlandaskan pada kitab Tafsir Al-Misbah
karya Quraish Syihab seorang mufasir asal Indonesia. Kemudian data yang sudah
terkumpul, akan dilakukan analisis secara mendalam dan komprehensif dengan
berlandaskan pada penafsiran dan pandangan mufassir terhadap ayat-ayat Al-Quran
seputar kemanusiaan agar menghasilkan sebuah kajan bermutu yang dapat
menyelesaikan krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Demikian merupakan cara
peneliti dalam pengumpulan dan pengolahan data-data.
PEMBAHASAN
(Hasil Temuan)
Penelitian
ini menghsilkan bahwa ada banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan
dengan konsep kemanusiaan. Hal ini menunjukan bahwa Islam sebagaimana tujuan
dan fitrahnya hadir untuk membebaskan umat manusia dari kondisi-kondisi ketimpangan
dan penindasan sosial. Islam menolak segala bentuk tirani, eksploitasi,
dominasi, dan hegemoni dalam berbagai aspek kehidupan baik ekonomi, politik,
budaya, gender, dan lainnya
Dalam
hal memilih keyakinan beragama, Islam telah sangat jelas melarang atas adanya
paksaan bagi seseorang dalam menentukan keyakiananya. Sebagaimana disebutkan
dalam surat Al-Baqarah ayat 256. Quraisy Syihab dalam Tafsir Al-Misbah
menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah tidak adanya paksaan dalam
menganut dan memilih keyakian akidah bagi seseorang. Karena Allah menghendaki
agar setiap orang merasakan kedamaian.
Sedangkan adanya paksaan dalam beragama menyebabkan jiwa menjadi tidak
damai. Tentu ini bertentangan dengan kehendak-Nya dan esensi Islam yang
bermakna damai. Oleh karena itu tidak ada dan tidak boleh ada paksaan dalam
menganut keyakinan agama Islam. Tidak adanya paksaan dalam menganut agama islam
juga merupakan karena telah jelas dan nampak mana jalan lurus yang banyak
memberikan maslahah dan jalan sesat yang memberikan banyak mafsadat. Sehingga
tidak perlu adanya paksaan dalam memeluk agama Islam ini, karena yang waras dan
berakal sudah pasti akan memilih jalan ini. Adapaun orang yang enggan menelusuri
jalan ini, pasti ada sesuatu yang keliru dalam jiwa orang tersebut dan menghalangi
pandangannya dari jalan lurus yang sudah terbentang di hadapannya.
Selanjutnya,
Quraish Syihab menyatakan bahwa surat Al-Isra ayat 70 merupakan dasar dan bukti
kuat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya “Ayat
ini merupakan salah satu dasar menyangkut pandangan Islam tentang Hak-Hak Asasi
Manusia. Manusia - siapa pun - harus dihormati hak-haknya tanpa perbedaan.
Semua memiliki hak hidup, hak berbicara dan mengeluarkan pendapat, hak
beragama, hak memperoleh pekerjaan dan berserikat, dan lain-lain yang dicakup
oleh Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia. Hanya saja perludicatat bahwa hak-hak
dimaksud adalah anugerah Allah sebagaimana dipahamidari kata karramna/Kami
muliakan, dan dengan demikian hak-hak tersebuttidak boleh bertentangan dengan
hak-hak Allah dan harus selalu berada dalamkoridor tuntunan agama-Nya”
Terkait
konsep keadlilan dan kebaikan, terdapat banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan
demikian. Salah satunya adalah dalam surat An-Nahl ayat 90 yang secara
eksplisit dan jelas Alloh memeritahkan kepada para hambanya untuk senantiasa
berlaku adil dan kebaikan. Quraish Syihab menafsirkan ayat ini bahwa “Sesungguhnya
Allah secara terus menerus memerintahkan siapa pun di antara hamba-hamba-Nya
untuk berlaku adil dalam sikap, ucapan dan tindakan, walauterhadap diri sendiri
dan menganjurkan berbuat ihsan yakni yang lebih utamadari keadilan, dan juga
pemberian apapun yang dibutuhkan dan sepanjangkemampuan lagi dengan tulus
kepada kaum kerabat, dan Dia yakni Allahmelarang segala macam dosa,
lebih-lebihperbuatan keji yang amat dicelaoleh agama dan akal sehat seperti
zina dan homoseksual; demikian jugakemungkaran yakni hal-hal yang bertentangan
dengan adat istiadat yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan melarang juga
penganiayaan yakni segala sesuatu yang melampaui batas kewajaran. Dengan
perintah dan larangan ini Dia memberi pengajaran dan bimbingan kepada kamu semua,
menyangkut segalaaspek kebajikan agar kamu dapat selalu ingat dan mengambil
pelajaran yang berharga”
Lebih
lanjut, dalam ayat lain surat Al-Isra ayat 104 allah memerintahkan para
hambanya untuk saling mencegah dalam perbuatan jahat berbarengan dengan
perintah untuk saling menyeru kepada kebajikan. Dalam Tafsir Al-Misbah, al-Munkar
dimaknai sebagai segala tindakan dan perbuatan yang dinilai buruk dan jahat
dalam pandangan agama dan akal sehat masyrakat. Sedangkan al-Ma’ruf dimaknai
sebagai segala tindakan dan perbuatan baik dalam pandangan agama dan akal sehat
masyrakat juga.
Salah
satu bentuk perbuatan jahat adalah berkata buruk kepada orang lain. Surat
An-Nisa ayat 148 menjadi salah satu ayat yang menegaskan pelarangan perbuatan
jahat tersebut. Dalam hal ini konteks ayat ini turun ketika orang-orang munafik
secara terang-terangan mengolok-ngolok dan berkata buruk kepada umat muslim.
Secara naluri insaniah, tentu umat muslim ingin membalas olok-olokan mereka.
Namun ayat ini turun untuk mencegah upaya pembalasan tersebut. Allah secara
jelas dalam ayat ini disebutkan tidak menyukai perbuatan berkata buruk yang
secara tidak langsung menjadi larangan bagi kaum muslim untuk tidak melakukan
hal demikian.
Bahkan
dalam surat Al-An’am ayat 108, Allah melarang umat muslim untuk mencaci maki
persoalan akidah agama lain yang secar jelas itu menyimpang dari jalan
kebenaran. Karena -sebagaimana diterangkan dalam Tafsir Al-Misbah- cacian dan
makian tidak akan merighasilkan suatu kemaslahatan. Agama Islam dating untuk
membuktikan kebenaran, sedangkan makian biasanya ditempuh oleh mereka yang
lemah. Sebaliknya dengan makian boleh jadi kebatilan dapat nampak di hadapan
orang-orang awam sebagai pemenang, karena itu suara keras si pemaki dan
kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang harus
memelihara lidah dan tingkah lakunya. Di sisi lain, makian dapat menimbulkan
antipati terhadap yang memaki, sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang
muslim, maka yang dimaki bukan semakin mendekat malainkan akan semakin menjauh
Dalam
ruang lingkup terkecil yaitu keluarga, Islam telah mengatur beberapa ketentuan
bagi para pemeluknya. Salahsatunya adalah mengenani keharusan berbakti kepada
kedua orangtua dan larangan berkata “ah” atau segala perkataan yang berkonotasi
kemarahan, pelalaian dan pelecehan kepada kedua orangtua. Yaitu pada surat
Al-Isra ayat 23. Permulaan ayat ini membahas seputar keilahian yaitu larangan
menyembah selain Alloh, kemudian dilanjut dengan pembahasan kemanusiaan yaitu
keharusan bagi seorang anak berbakti kepada kedua orangtuanya dan larangan
berkata tidak seharusnya yang dapat melukai hati kedua orang tua, walau sudah
sebanyak dan sebesar apapun pengabdian seorang anak kepadanya kepadanya.
Dalam
surat Al-Hujurat ayat 13, Allah menegaskan bahwa dia telah menciptkan manusia
terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kemudian manusia dijadikan
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku karena semakin berkembang banyak dan
tersebarnya diseantero bumi ini. Inti dari ayat ini adalah bahwa semua manusia
mempunyai kedudukan yang sama di hadapan allah, tidak ada yang membedekannya
baik karena suku, ras, etnis, pangkat dan lain sebagainya. Hanya satu faktor
saja yang dapat mempenagruhi tinggi rendahnya posisi manusia di hadapan Allah,
yaitu soal kualitas ketakwaan manusia tersebut. Ini menjadi pelajaran bagi umat
manusia untuk senantiasa duduk sama rata, tidaka ada yang lebih unggul satu
dengan lainnya. Semuanya memilki posisi dan kedudukan yang samam sebagai manusia.
Apapun latar belakang manusia tersebut, semuanya tetap harus memegang teguh
prinsip “memanusiakan manusia”.
(Diskusi)
Temuan dalam hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada sejatinya Islam
merupakan agama yang telah mengatur secara rinci konsep kemanusiaan. Hal ini
terlihat dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an dan ditambah lagi dengan banyaknya
hadits serta ketentuan-ketentuan tambahan lainnya yang berbicara soal
kemanusiaan.
Islam
sendiri hadir pertama kalinya untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan yang
terjadi saat itu. Dalam hal ini konteksny adalah masyarakat arab pra-Islam yang
memiliki sikap dan perbuatan yang amat memprihatinkan. Mereka tidak segan-segan
untuk mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang mereka miliki, karena
menganggapnya sebagai aib yang perlu disembunyikan. Bagi mereka perempuan
adalah representasi bentuk kelemahan dan kehinaan. Sehingga mereka menghiraukan
dan melibas secara membabi buta terhadap apa yang seharusnya menjadi haknya
kaum perempuan. Bukan hanya kepada kaum perempuan, mereka juga berlaku
semena-mena terhadap kaum yang lemah baik secara ekonomi, kekuasaan atau nasab,
terutama terhadap kaum budak yang sudah mereka perlakukan layaknya sebuah
binatang. Terdapat banyak lagi sikap dan perbuatan mereka yang secara jelas
telah mencoreng dan melanggar hak asasi manusia. Oleh karena itu, mereka
dikenal sebagai masyarakat jahiliah atau masyarakat bodoh yang tidak
mengenal peradaban dan kemanusiaan.
Kemudian
Islam hadir ditengah-tengah masysrakat arab pra-Islam dengan mengemban visi Rahmatal
Lil ‘Alamin Islam secara perlahan dan konsisten memeperbaiki
penyimpangan-penyimpangan tersebut. Terbukti usha tersebut berhasil dikemudian
hari dan menjadikan masyarakat arab sebagai masyarakat yang madani dan menjadi
rujukan pedoman keberhsilan bagi kelompok-kelompok masyarakay lainnya. Islam
sebagai sebuah agama bukan hanya membahas seputar konsep ketuhanan semata,
tetapi lebih dari itu juga membahas seputar kemanusiaan. Sehingga ajarannya
bersifat membumi dan mencakup segala aspek kehidupan manusia bahkan sampai hal
yang terkecil sekalipun.
Islam
sejak awal telah menegaskan bahwa semua manusia memilki kedukan yang sama rata
baik dihadapan sesama manusia juga atau bahkan dihadapan Allah yang Maha Luhur.
Kemudian Alloh juga telah menegaskan bahwa dia telah memuliakan umat manusia
dihadapan makhluk ciptaan lainnya. Sehingga menjadi sebuah keangkuhan apabila
ada seorang manusia yang merasa dirinya memilki kedudukan yang lebih tinggi
dari manusia lainnya dan disertai dengan perbuatan dzolim kepada sesamanya,
karena dia telah secara nyata dan jelas melangkahi dan menyalahi kehendak Allah
yang memposisikan manusia sebagai makhlul yang mulia.Dengan ini secara jelas
islam telah menjaidkan aspek kemanusiaan sebagai bagian penting yang tidak
dapat dipisahkan dalam kehidupan beragama.
Menurut
Quraish Syihab, kemanusiaan hakiki dalam pandangan agama selalu disertai oleh
nilai-nilai yang bersifat langgeng dan abadi. Semua manusia akan selalu
mendambakan terwujudnya keadilan, menilai luhur pengabdian pada orang tua dan
mencela kebohongan dan kezaliman apapun agama dan kepercayaan mereka
Islam bahkan melarang para pemeluknya dalam melakukan pemaksaan atas
keyakinan orang lain dan larangan untuk tidak mencela keyakinan selain Islam.
Padahal Islam telah mengaskan bahwa Islamlah satu-satunya agama yang berada di
jalan benar, selainnya merupakan sebuah kesesatan. Ini menunjukan bahwa
keyakinan kokoh Islam atas kebenaran tidak lantas mengaburkan Islam terhadap
nilai-nilai kemanusiaan. Justru Islam datang untuk menegakan dan memperkokoh
nilai-nilai kemanusiaan disamping juga nilai-nilai ketuhanan. Selain melakukan
pencegahan atas segala kejahatan, Islam juga memerintahkan untuk senantiasa
menyeru umat manusia kepada kebajikan. Diantara contoh penting amanat Islam
terhadap kebajikan adalah kewajiban berbakti kepada orang tua, perlunya saling
memafkan, anjuran berkata baik dan saling memuji, seruan bertindak baik sebagai
balasan atas tindakan buruk orang lain, dan lain sebagainya. Seorang muslim
dituntut untuk selalu berusaha dan seantiasa memilki hubungan yang baik dan
benar terhadap Allah dan sesama manusia. Hubungan vertikal dan horizontal itu
dituntut harus selalu seirama , karena keduanya merupakan bagian penting dari
agama itu sediri.
Terkait hak kemanusiaan kaum perempuan, Islam hadir sejak awal untuk
mengangkat harkat martabat kaum perempuan yang pada saat itu mengalami
diskriminasi dan krisis yang luar biasa di kehidupan masyrakat Arab pra-Islam.
Kemudian Islam secara khusus Al-Qur’an telah menegaskan bahwa kedudukan dan
posisi umat manusia adalah setara, tidak ada yang lebih tinggi dari yang
lainnya. Dihadapan allah hanyalah kualitas ketakwaan yang menjadi pembeda
kedudukan sesseorang, bukan karena perbedaan ras, suku, bangsa, gender dan lain
sebagainya. Selain menegaskan adanya kesetaraan kaum perempuan dan pria,
Al-Qur’an juga memeberikan kehormatan daan memberikan apa yang menjadi haknya
perempuan. Salahsatunya adalah perempuan berhak mendapatkan hak warisannya. Ini
merupakan hal yang baru dalammasyrakat arab pada saat itu, karena sebelumnya
perempuan sama sekali tidak boleh menerima harta warisan. Mereka memperlakukan
kaum wanita layaknya benda mati milik mereka yang dapat sesuka mereka
perlakukan dan tidak memilki hak atas apapun.
Krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini berangkat dari berbagai faktor
yang melatar belakanginya. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang beragama,
salah satu factor itu adalah minimnya pengaruh agama terkhusus Islam dalam jiwa
kehidupan mereka. Sehingga apabila jiwanya sudah kering dari Islam, maka output
yang dikeluarkanpun akan sama keringnya dengan jiwanya. Bahkan tidak sedidkit
yang melakukan tindakan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan dengan berdalih dan
berlindung dibawah Islam. Padahal Islam sejatinya tidak menghendaki hal
demikian dan mereka telah berdusta besar mengatasnamakan Islam.
Islam dalam ajaranya memuat dua pokok utama, yaitu ketauhidan dan
kemanusiaan. Kedua aspek hubungan vertikal dan horizontal ini harus selalu
berjalan seiringan. Kesahlehan secara ritual merupakan ibadah bentuk
penghambaan dan ungkapan rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta atas semua
karunia dan nikmat yang dianugerahkan-Nya. Sedangkan kesalehan secara sosial
merupakan ibadah bentuk aktualisasi kehendak dan ajaran-Nya yang menghendaki
terciptanya kehidupan manusia yang aman dan damai. Islam telah sangat jelas dan
nyata memberikan perhatian lebih terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Selanjutnya
manusia terkhusus umat muslim memilih hendak menjadikan Islam sebagai sumber
inspirasi kemanusiaan yang merupakan bentuk ketaatan atau tetap mengabaikannya
yang merupakan bentuk kekufuran.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, ditemukan
fakta bahwa Islam sangat berkaitan erat sekali dengan nilai-nilai kemanusiaan
yang bahkan menjadi agenda utama selain ketuhidan dalam Islam itu sendiri.
Terdapat banyak nilai-nilai ajaran Islam yang secara jelas dan rinci
mengatur aspek kemanusiaan. Termasuk dalam Al-Qur’an yang menjadi dasar pedoman
kehidupan umat muslim telah sejak awal menegaskan prinsip kesetaraan, keadilan
dan keharmonisan. Dengan begitu sangat jelas terbukti bahwa Islam dapat menjadi
dan memang seharusnya sebagai sumber inspirasi kemanusiaan.
Quraish Syihab sebagai salah satu mufassir di era modern telah banyak
memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan melalui berbagai media ceramah, tulisan
dan termasuk kitab tafsir Al-Qur’an karyanya yang diberi nama Al-Misbah. Secara
ekspilist beliau berpendapat Islam bukanlah agama yang menjadi batu hambatan
bagi terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana anggapan banyak orang,
tetapi sebaliknya sejak awal turunya risalah agama ini, Islam telah lebih
dahulu memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan untuk ditegakkan di tengah-tengah
kehidupan masyrakat. Di era sekarang ini yang dimana krisis kemanusiaan semakin
merajalela, peranan Islam begitu terasa penting dalam menyelesaikan segala
permasalahan yang terjadi. Namun tentu perlu diingat, Islam hanyalah
menyediakan formulanya, aktor utamanya tetaplah umat muslim itu sendiri yang
perlu dan harus bertindak sesuai dengan formula yang telah Islam berikan. Tanpa
adanya gerakan nyata dari umat muslim, formula ajaib itu hanya akan tetap tersimpan
di teks-teks suci agama.
Penelitian
ini tentu memilki kekuranga disana sini, terutama terkait kuantitas sumber
rujukan dan ketajaman analisisnya. Penelitian selanjutnya disarankan untuk
memperhatikan kedua aspek tersebut. Banyaknya sumber rujukan dan ketajaman
analisis menjadi komponen penting dalam bagusnya kualitas sebuah penelitian.
Terlepas dari itu semua, peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan
andil yang baik dalam proses penyelesaian krisis kemanusiaan yang saat ini
sedang terjadi.
Komentar
Posting Komentar