Teori
Agama dalam Sisi Budaya
Clifford
Greetz merupakan seorang antropolog budaya yang berasal dari amerika. Dia
banyak menggunakan pendekatan atropolog dalam berbagai aspek kajiannya. Salah
satunya adalah dalam aspek agama. Menurutnya manusia hidup dalam suatu sistem
makna komleks yang disebut dengan “kebudayaan” dan agama merupakan bagian
darinya. Aktivitas kebudayaan manusia merupakan sesuatu yang istimewa dan cara
menjelaskanya tidak bisa dengan cara yang dipakai para ilmuan eksakta
menjelaskan kehidupan alam. Selanjutnya dari pemahaman saya pribadi terkait
yang dimaksud Greetz mengenai agama sebagai suatu sitem kebudayaan adalah agama
merupakan sebuah sistem yang berisikan simbol-simbol dan ritual-ritual yang
bertujuan untuk menciptakan kekokohan dalam diri manusia dalam menjalani
kehidupannya yang kemudian kekokohan diri tersebut akan dapat dengan mudah
menyebar pada diri manusia lainnya. Adapun caranya dengan membentuk sebuah
konsepsi eksitensi dan arti sebenarnya dari kehidupan yang kemudian pada
akhirnya akan membentuk sebuah realitas perilaku yang unik. Saya mengambil
contoh Islam sebagai sebuah agama yang sangat berkaitan erat dengan kebudayaan
masyarakat setempat. Hal ini dapat dibuktikan dengan bagaimana Islam dalam
perkembangannya selalu menyesuaikan diri dengan perilaku masyarakat pemeluknya.
Dimulai dari kitab suci Al-Quran yang berbahasa arab dan penyampaiannya dalam
bentuk sastra yang tinggi sebagai reaksi dari kebudayaan objek sasaran awal
masyarakat yang ditujunya. Seandainya mungkin Al-Quran turun di daerah jawa,
maka ia akan menggunakan bahasa jawa sebagai bentuk penyesuaian diri dengan
kebudayaan masyarakat setempat. Lebih kompleks lagi soal hukum praktis agama
yang begitu beragam dan berbeda satu sama lain. Ditambah lagi dengan
alira-aliran dan madzhab-madzhab yang muncul dari berabagai tempat yang berbeda
sebagai sebuah reaksi keagamaan dalam menyikapi dan menyesuaikan diri dengan
kebudayaan setempat. Dalam konteks Indonesia, kemudian muncul istilah “Islam
Nusantara” sebagai bentuk gerakan keagamaan yang berusaha menjaga ciri khas
kebudayaan Islam Indonesia dari pengaruh-pengaruh Islam luar yang dapat merusak
dan menghilangkan keunikan dan kekhasan Islam yang berkembang di Indonesia. Karena
tentu Islam yang berkembang disatu tempat cenderung memilki perbedaan dengan
Islam yang berkembang ditempat lain sebagai akibat dari kebudayaan setempat
yang berbeda pula. Dalam hal ini Greetz mengambil contoh Islam di Indonesai dan
Maroko yang cukup memiki perbedaan yang signifikan. Islam di Indonesia
cenderumg bersifat adaptif, menyerap dan ketenangan, sedangkan Islam di Maroko
cenderung bersifat agresif, nonkompromi dan aktivisme. Pada dasarnya perbedaan
tersebut bersumber dari watak kepribadian dan kebudayaan masyarakat setempat
yang kemudian merembet ke aktivitas keagamaanya. Dari fenomena-fenomena
tersebut menjadi bukti dan alasan kuat akan keakuratan teori agama sebagai
sistem kebudayaan yang dicetuskan oleh Greets. Penting untuk menjadi catatan
sebagaiman yang dinyatakan Greetz bahwa analisa kebudayaan bukanlah suatu ilmu
eksperimental yang mencari sebuah hokum, tetapi merupakan sebuah bentuk upaya
penafsiran atas pencarian makna yang sebenarnya. Terakhir yang cukup menyita
perhatian saya adalah sebuah pernyataan Greetz yang menyatakan bahwa
orang-orang berfikir religius dan mempertahankan simbol-simbol suci, tetapi
dengan cepat pada hakikatnya mereka semakin tidak religious. Fenomena itu
benar-benar terjadi disaat ini, ada banyak orang yang berusaha mati-matian
menegakan penampakan-penampakan lahiriah keagamaan semata yang dengan bersamaan
pula dia melupakan dan mengabaikan subtansi sebenarnya yang dikehendaki oleh
agama. Dia lupa akan eksitensi sejati agama yang selalu sesuai dan menyesuaikan
diri dengan perkembangan zaman. Bahkan dia telah dengan jelas menyunat agama
yang pada sejatinya bersifat Rahmatal lil ‘Alamin.
Komentar
Posting Komentar