Peradaban Islam Pada Masa Khulafa Ar-Rasyidin
Masa
Khulafaurrasyidin merupakan sebuah masa ketika umat Islam dipimpin oleh empat
orang khilafah setelah sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW.
Empat orang Khilafah tersebut adalah Sayyidina Abu Bakar as-Shddiq, Sayyidina
Umar bib Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Dimasa kepemimpinan empat orang ini, peradaban Islam mengalami beberapa
kemajuan yang signifikan walaupun tidak dapat dipungkiri terdapat pula beberapa
noda konflik yang terjadi. Tetapi bagaimanapun juga, masaa ini merupakan
masa-masa terbaik Umat Islam setelah masa Rasulullah tentunya.
Kepemimpinan
Umat Islam dimasa ini merupakan sebuah pencapaian besar Umat manusia secara
umum, yang dimana nilai-nilai kemanusian dan keadilan begitu terasa hadir ditengah-tengah
kehidupan masyarakat tersebut. Sedangkan disisi lain pada masa itu, kepemimpinan
cenderung hanya merupakan kepanjangan tangan dari kerakusan dan keangkuhan
seorang penguasanya. Kegemilangan peradan Islam pada masa ini dimulai ketika
upaya mencari seorang pemimpin setelah wafatnya Rasulullah. Musyawarah
merupakan jalan yang ditempuh Umat Islam saat itu, dan dikemudian hari ini
menjadi pedoman dan nilai-nilai penting bagi prinsip demokrasi. Ini menunjukan
bahwa jauh sebelum peradaban modern datang, Islam telah terlebih dahulu
memberikan pedoman dan nilai-nilai baik bagi kehidupan umat manusia. Kemudian
pada masa khalifah Umar didirikan sebuah lumbung pangan masyarakat yang
dinamakan Baitul Mal. Tempat ini menjadi simbol dan roda perekonomian yang
penting bagi masyarakat. Di Baitul Mal, nilai-nilai kemanusiaan begitu hadir.
Orang-orang kaya secara sukarela menyalurkan zakat, infak dan shadaqahnya, dan
secara bersamaan pula orang-orang tidak mampu dapat mengambil kebutuhan mereka
secukupnya dari tempat tersebut. Keseimbangan perekonomian terbangun, tidak ada
kesenjangan antara si miskin dan si kaya. Semua golongan dan elemen masyarakat
saling bahu membahu membangun dan memenuhi kebutuhannya secara kolektif.
Disamping terbentuknya sistem yang baik pada masa itu, terdapat satu hal
penting yang tidak dapat dilepaskan dan diabaikan keberadaannya, yaitu adalah
soal jati diri dan kepribadian para Khalifah dan Umat Islam di masa tersebut.
Para Khalifah yang memimpin merupakan manusia-manusia pilihan yang tidak dapat
diragukan lagi kredibilitasnya. Sejak masa awal keislaman, mereka telah banting
tulang berjuang demi Islam dan nilai-nilai kebaikan yang dibawanya. Jiwa, raga
dan harta telah mereka pertaruhkan secara cuma-cuma tanpa mengarapkan apapun
dari balasan kefanaan. Maka ketika mereka berada dipucuk kepemimpinan,
misi-misi kebaikan yang mereka bawa menjadi lebih tersebar diseantero wilayah
yang menjadi kekuasaanya. Terlebih lagi masyarakat Islam secara umum pada masa tersebut merupakan masyarakat terbaik
yang menjadi buah karya dari perjuangan perbaikan moral yang dilakukan
Rasulullah dimasa sebelumnya. Jadi tentu terbentuklah sebuah keharmonisan
antara pemimpin dan masyarakatnya yang kemudian
menghasilkan sebuah kemajuan bagi
Peradaban Islam pada masa Khulafaurrasyidin dalam berbagai aspek kehidupan
msayarakat secara luas.
‘Manusia merupakan tempatnya salah dan lupa’, barangkali ungkapan
tersebut cocok untuk menggaris bawahi semua perjalan kehidupan umat manusia
termasuk dalam bingkai peradaban Islam pada masa Khulafaurrasyidin ini. Peperangan
antar sesama Umat Islam pertama kali meletus dimasa ini. Tentu suatu hal yang
mengejutkan yang dimana sesama Umat Islam merupakan rajutan persaudaraan
berubah menjadi jurang permusuhan dan pertikaian. Bahkan dalam perang Jamal,
dua kelompok yang saling bertempur dipimpin oleh Sayyidituna Aisyah dan
Sayyidina Ali. Keduanya merupakan kerabat dekat Rasulullah dan telah dijaminkan
surga bagi keduanya. Korban yang berjatuhan dari pihak keduanya juga merupakan
orang-orang Islam terbaik pada masanya. Di sisi lain terjadi perebutan tahta
kekuasaan, salahsatunya adalah yang dilakukan Sayyidina Muawiyah terhadap
Khalifah Ali, sampai puncaknya terjadi perang Shiffin. Benih-benih praktik
nepotisme juga muncul pada masa Khalifah Utsman. Bahkan tiga dari empat
Khulafaurrasyidin wafat karena dibunuh. Ini merupakan fakta sejarah yang tidak
boleh dilupakan. Sekalipun penuh dengan darah dan konflik bukan berarti harus
menutupnya rapat-rapat.
Peradaban Islam pada masa Khulafa Ar-Rasyidin berhasil mencapai titik
gemilangnya. Terdapat berbagai aspek yang layak menjadi pedoman baik bagi
peradaban-peradaban setelahnya. Walaupun terjadi konflik dan peperangan
disana-sini, itu merupakan sebuah hal yang wajar terjadi dalam bingkai
masyarakat yang memang beragam dalam berbagai aspeknya. Pelajaran dan hikmahlah
yang patut dipetik dari apa yang sudah terjadi, baik itu dari hal yang memang baik
ataupun tidak.
Komentar
Posting Komentar