Yahudi dan zionisme lebih sering dianggap sebagai sebuah kesatuan. Yahudi adalah zionis dan zionis pastilah Yahudi. Padahal realitasnya sungguh berbeda. Yahudi adalah sebuah etnis. Sedangkan zionisme adalah sebuah gerakan politik. Adapun Yudaisme adalah nama bagi agama yang dianut oleh etnis Yahudi. Apabila diilustrasikan dalam agama Islam, zionisme serupa dengan gerakan politik radikal seperti ISIS yang keduanya sama-sama berjuang menegakkan sebuah negara ekslusif bagi kalangan agamanya, namun pada kenyataannya usaha-usaha untuk mencapai itu mereka lakukan denga cara-cara yang sama sekali telah bertentangan dengan esensi ajaran agamanya.
Zionisme muncul sebagai akibat dari gerakan antisemitisme yang semakin meningkat pada akhir abad ke-19 di Eropa. Antisemitisme adalah sebuah sikap dan perilaku anti-Yahudi yang merupakan sebuah respon atas perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat serta berkembangnya kapitalisme modern yang pada saat itu diyakini tidak terjadi secara alamiah, melainkan telah direncanakan oleh persengkokolan orang Yahudi yang berambisi menguasai dunia.
Secara kontekstual, etnis Yahudi di masa itu merupakan masyarakat lapisan bawah yang mendapatkan diskriminasi baik secara sosial maupun ekonomi. Dengan berkembangnya ekonomi pasar bebas kapitalis, etnis Yahudi mendapatkan momentumnya untuk menggapai kesejahteraan dan secara bersamaan kemapanan sistem sosial dan ekonomi yang sebelumnya telah ada mulai tergoyahkan. Atas dasar itu, masyarakat Eropa semakin antipati terhadap etnis Yahudi dan peristiwa-peristiwa pendiskriminasian etnis Yahudi baik secara fisik ataupun nonfisik semakin tambah meningkat. Puncaknya adalah peristiwa Holocaust yaitu pembantain masal enam juta orang Yahudi oleh rezim fasis Nazi. Kemudian munculah cita-cita untuk membangun tanah air atau negara bagi etnis Yahudi dari kalangan mereka sendiri sebagai reaksi atas segala kemalangan yang telah menimpanya.
Tentu, sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita berempati atas apa yang menimpa etnis Yahudi di masa lalu. Karena segala bentuk penindasan terhadap seorang manusia tidaklah dapat dibenarkan. Tidak perlu memandang siapa korban atau pelakunya untuk berempati. Kejahatan adalah musuh besar agama dan umat manusia. Begitupula kita mengecam dan mengutuk segala bentuk kejahatan yang Zionisme lakukan terhadap rakyat palestina. Seharusnya mereka juga berempati atas bagaimana sengsaranya hidup dibawah peperangan dan penindasan yang di alami rakyat palestina, sebagaimana para pendahulu mereka juga merasakannya.
Memang tidak dapat dipungkiri, sebagian orang Yahudi berada di posisi dan berpihak kepada gerakan Zionisme. Tetapi itu seharusnya tidak lantas membuat kita memberikan kesimpulan untuk menggeneralisir semua orang Yahudi pasti bersikap demikian. Layaknya sebuah agama pada umumnya, ada terdapat banyak corak aliran dan pemikiran di dalamnya. Mulai dari yang konservatif sampai yang liberal ataupun dari yang moderat sampai yang radikal. Kita dapat melihat terdapat beberapa kelompok orang Yahudi yang juga menentang dan mengutuk aksi kebrutalan zionisme. Salahsatunya adalah Jewish Voice for Peace sebuah organisasi advokasi Yahudi yang telah lama secara konsisten mengutuk tindakan zionisme dan mendukung pemenuhan hak-hak rakyat palestina baik melalui usaha bilateral maupun materil. Sekali lagi perlu diktekankan, sejatinya Zionisme tidak mewakili etnis Yahudi, sama seperti halnya ISIS yang sama sekali tidak mewakili dan tidak merepresentasikan nilai-nilai yang terpatri dalam ajaran agama Islam.
Oke
BalasHapus