Saat ini terdapat suatu bentuk penjajahan yang tidak kalah mengerikannya dibanding penjajahan secara fisik, yaitu bentuk penjajahan secara intelektual. Maka bentuk penjajahan tidak lagi sebatas hanya berusaha untuk mengontrol, tapi juga berusaha untuk menciptakan jenis manusia baru yang dapat dikontrol.
Dibalik kolonialisme, yang lebih mengarah pada penjajahan material. Terdapat bentuk dekolonisasi dan postkolonialime ala epistemik Euro-Amerika yang seolah-olah melawan bentuk kolonialisme, padahal juga ikut menjadi penjajah secara ideologis. Karena dasar-dasar teoritis dari teori postkolonial dan dekolonial terletak pada sekularisme liberal, teori-teori tersebut seringkali melanggengkan dominasi hegemoni epistemik Euro-Amerika. Kemudian Euro-Amerika sentrisme ini akhirnya menjalar ke berbagai penjuru dunia dengan salah satu bukti konkritnya adalah banyaknya orang yang menganggap dunia barat dianggap lebih maju dan tercerahkan dibandingkan dengan belahan dunia lainnya. Adapun Kajian dekolonialisasi dan postkolonial merupakan bentuk terbaru dari keyakinan liberalisme sekuler bahwa hanya liberalisme-lah yang dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah yang timbul. Mereka membuat mekanisme dimana liberalisme mengantisipasi, menciptakan, dan menyerap oposisinya sendiri.
Padahal setiap kelompok atau bangsa memiliki keunikan dan ciri khas jati dirinya masing-masing, termasuk dalam ranah epistemik-nya. Sehingga memaksakan atau menguniversalkan salah satu epistemik suatu bangsa atas bangsa yang lain adalah sebuah kekeliruan.
Oleh karena itu, masyarakat muslim sebagai salah satu bangsa yang juga punya perjalanan sejarah panjang mengenai kemajuan peradaban, harus mengembangkan epistemik dekolonisasi nya sendiri yang berlandaskan pada ajaran-ajaran Islam. Kemandirian epistemik dekolonisasi ini penting karena agar perubahan apapun dapat bertahan lama dan berpengaruh secara signifikan, perubahan tersebut harus memiliki landasan epistemologi filosofis mendalam yang sejalan dengan jati dirinya masing-masing agar dapat bertahan melampaui setiap generasinya. Hal lain yang juga sangat penting adalah bahwa ketika terlibat dalam upaya dekolonisasi tidak boleh lantas direduksi menjadi sebuah gerakan yang totalitas menolak segala sesuatu yang bukan berasal dari dirinya.
Salahsatu bentuk ketidaksejalanan epistemik Euro-Amerika dengan tradisi Islam adalah apa yang tercermin dalam istilah yang saat ini dikenal dengan knowledge production (produksi pengatahuan). Produksi dapat diartikan sebagai yang dihasilkan, padahal pengetahuan itu sendiri tidak dihasilkan. Dalam Islam, pengetahuan itu hanya sebatas dikembangkan, disingkapkan, ditemukan, direalisasikan atau diverifikasi. Dengan demikian mengonseptualisasikan manusia sebagai produsen pengetahuan sama saja dengan memperkuat visi sekularisme tentang manusia sebagai makhluk yang otonom dan terputus dari yang transenden serta menolak cakrawala transenden apa pun. Sehingga pada akhirnya menjauhkan umat Islam dari tradisi ajaranya dan menjadikannya tidak lagi menganggap dirinya sebagai makhluk yang berada dalam hubungan perjanjian dengan Sang Penciptanya.
Lebih jauh dalam pemikiran Edward Said yang dikenal sebagai bapak teori pascakolonial, dia memiliki logika sekuler yang mengidentikkan agama dengan dogmatisme dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang berlawanan dengan segala bentuk penyelidikan intelektual. Sehingga harus dipinggirkan demi metodologi yang berasal dari sekuler yang diasumsikan lebih unggul. Klaim atas universalitas rasionalisme sekuler ini tidak lain adalah salah satu bentuk kolonialisme epistemik yang saat ini masih eksis. Padahal agama dan sikap dogmatisme adalah dua hal yang berbeda dan tidak pasti akan melekat satu sama lain. Kenyataannya dalam sejarah Islam klasik ditemukan adanya penerimaan yang luas terhadap berbagai perspektif. Merangkul multipolaritas epistemologis adalah landasan Islam klasik yang menjadikannya memiliki keragaman nuansa intelektual yang sangat kaya dan berharga.
Terakhir penting untuk kembali ditegaskan bahwa setiap epistemik pemikiran setiap bangsa atau kelompok perlu untuk ditempatkan dan dijalankan dalam bingkainya masing-masing tanpa ada obsesi untuk saling menjatuhkan satu sama lain.
Komentar
Posting Komentar